Kulit Kayu

Lokasi: Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah - Indonesia

 

 KAIN KULIT KAYU

Tradisi Yang Terancam Punah

 

Orang sudah mengenal kain tenun Songket dari Palembang atau Ulos dari Sumatera Utara. Lalu adapula Buya Sabe di Donggala, Sulawesi Tengah. Tapi jika menyebut Ivo atau Vuya, tentu saja orang akan bertanya-tanya. Ini salah satu produk yang ramah lingkungan. Apa itu gerangan? Berikut kisahnya dari Donggala, Sulawesi Tengah.

Tok…Tok…Tok…Bunyi berirama itu sudah terdengar dari jauh. Artinya Desa Pandere, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah sudah dekat. Di desa inilah tradisi Ivo atau Vuya itu berkembang. Vuya atau Ivo adalah kain berbahan dasar kulit kayu Bea (Bhroussonetia sp) dan Malo (Ficus sp).

Bunyi berirama tadi adalah hentakan bahan dasar kulit kayu yang ditempa dengan Ike, alat pemukul dari batu pualam yang diikat dengan rotan. Kulit kayu yang masih kasar itu, ditempa di atas Tatua, kayu setengah lingkaran atau papan keras.

Loh, apa iya ada kain dari kulit kayu? Ya, sejak ratusan tahun lalu masyarakat asli Sulawesi Tengah mempunyai tradisi unik ini. Tradisi ini terutama berkembang di sepanjang kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) di Donggala dan Poso. Ada beragam nama yang diberikan pada kain kulit kayu ini. Di Pandere dan Kulawi, Donggala, Sulawesi Tengah, warga setempat menyebutnya Ivo dan Kumpe. Lalu di Bada, Donggala, warga menyebutnya Ranta. Lalu di Besoa, Donggala, warga menyebutnya Inodo. Namun, sebutan Vuya yang lebih populer.

Tradisi ini makin berkembang saat pendudukan Belanda dan Jepang. Vuya dapat dijadikan baju, celana, rok maupun ikat kepala atau siga. Sebelumnya juga digunakan sebagai kain kafan bagi para bangsawan dan tetua yang meninggal dunia. Kini, tradisi ini, meski mulai tertatih-tatih bersaing dengan zaman, terus dilestarikan. Vuya kini berubah bentuk. Menjadi hiasan dinding, tas, pigura, sampul buku, juga cup lampu kamar. Meski makin tergerus zaman, tentu saja Vuya masih dipakai menjadi perlengkapan upacara adat di sekitar Lembah Besoa, Bada dan Kulawi. Jika musim panen atau kedukaan, kita akan mudah menemukan orang tua dan gadis remaja memakai pakaian dari kulit kayu ini.

Ada beragam bentuk kain kulit kayu yang dipakai dalam upacara adat. Misalnya, Toradau (blus yang digunakan pada upacara adat penyambutan tamu terhormat). Lalu, Vuya (dipakai pada upacara penyembuhan penyakit/Balia). Ada pula Siga (digunakan sebagai destar pada semua upacara adat) dan Vini (rok yang digunakan pengantin wanita pada upacara perkawinan dan penyambutan tamu).

Pohon yang dipilih adalah sejenis beringin, waru atau pohon murbei kertas yang oleh penduduk setempat disebut malo. Usianya harus sudah dua tahun. Yang diambil dari pohon ini hanyalah batang airnya saja, kira-kira 5 centimeter garis tengahnya. Setiap batang air yang diambil, dipotong sepanjang empat jengkal. Itulah yang kemudian diolah menjadi kain.

Prosesnya dimulai dari Nosisi, atau menguliti kulit kayu tadi. Kemudian Notikuli, membersihkan kulit kayu yang sudah dikuliti. Kulit arinya dibersihkan. Setelah itu, barulah kulit kayu tadi ditumbuk dengan Ike di atas Tatua. Proses ini dinamakan Nombaovo. Lamanya kira-kira tiga jam.

Jika sudah agak halus, sekarang saatnya Nompa’ atau Nonohu. Kulit kayu yang sudah ditumbuk tadi diperam dengan cara dibungkus dengan daun Mengkudu agar menjadi licin dan mudah disambung. Lalu dibungkus dengan karung goni. Sebelumnya, kulit kayu itu dibilas hingga bersih dari kotoran yang menempel.

Setelah proses Nonohu yang biasanya memakan waktu 1 x 24 jam, barulah kulit kayu tadi ditumbuk lagi dengan Ike di atas Tatua sampai benar-benar halus. Proses ini dinamakan Nontutu. Di sini proses penyambungan lembaran-lembaran kulit kayu dilakukan. Sampai menjadi kain sesuai ukuran yang diinginkan.

Setelah proses Nontutu selesai ada satu tahapan lagi yakni Nompao. Kulit kayu yang sudah berubah ujud menjadi kain tadi disetrika dengan kayu. Supaya lebih halus lagi. Setelah itu barulah dikering anginkan. Nah, jadilah selembar kain kulit kayu. Dalam seminggu, paling banyak dua lembar kain kulit kayu seukuran 1 x 2 meter yang dihasilkan per orang.

Lalu, soal Ike. Itu ada tingkatannya. Biasanya ada tiga. Ike dibuat dari batu pualam atau granit dengan ukuran 2 x 4 x 7 centimeter. Batu Ike diikat dengan anyaman rotan. Lalu dibuat beralur. Ike pertama alurnya lebih renggang untuk meratakan kulit kayu. Lalu Ike kedua alurnya mulai menyempit, untuk menghaluskan kain. Dan kemudian Ike ketiga yang alurnya lebih rapat dan beragam. Ada horisontal, vertikal dan diagonal. Ini untuk menghaluskan lagi dan membuat tekstur pada kain kulit kayu.

Dunia boleh makin modern, tapi tradisi, adat istiadat harus terus dilestarikan. Kalau bukan oleh kita, oleh siapa lagi. Jadi, akankah tradisi ini dapat lestari? Kita harus menjawabnya dengan optimis. Meski tahu, industri tekstil kita kini sudah pada tahapan sintetik. Semuanya serba kimiawi. Meski tahu produk-produk kimiawi sulit terurai jika sudah menjadi sampah. Sekarang tinggal kita pilih melestarikan produk ramah lingkungan itu atau terus membebani bumi dengan sampah-sampah kimiawi? Tentu saja kita akan memilih jalan yang paling bijak.

 

Quik Link Wisata

 

Likunggavali 2

 

22,93 mm

Investasi

Peluang Investasi Lainnya

17.01.2013

 Peluang Investasi Lainnya Peluang investasi lainnya yang berada di Provinsi Sulawesi Tengah
Peluang Investasi Industri Pengolahan Rumput Laut

17.01.2013

Bidang Usaha Industri Pilihan : Jenis usaha industri yang tidak memerlukan banyak lahan dan a
Peluang Investasi Industri Arang Briket

17.01.2013

Bidang Usaha Industri Pilihan : Jenis usaha industri yang tidak memerlukan banyak lahan dan a

PENGUNJUNG

493259
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Kemarin
Bulan Ini
Bulan Kemarin
Total
193
327
1307
488965
12014
13307
493259
Your IP: 54.198.205.161
Server Time: 2017-06-29 10:13:51

BISNIS

BAKERY